Wednesday, April 4, 2018

AYAH...IBU....


Ayah..
Esok hari akan ada seorang laki-laki yang berniat menghalalkan aku..
Dia bersedia menempati posisi kedua di hatiku setelah engkau..
Dia mencintai aku sebagaimana engkau mencintaiku..
Dia bersedia menerimaku seperti adanya apa diriku..

Ayah..
Aku sungguh tak tau harus mengatakan apa. Aku selalu mencintaimu. Selalu mengagumimu. Selalu mendoakanmu di akhir sujudku. Selalu berusaha memberikan bakti terbaikku untukmu.

Ayah..
Terimakasih karena engkau bersedia menjadi ayah yang luar biasa untukku.
Semua yang engkau lakukan untukku tak akan pernah bisa aku balas dengan apapun di dunia ini. 
Maafkan aku jika selama 23 tahun ini aku belum bisa membahagiakanmu.
Maafkan aku jika aku selalu membuatmu sakit hati dengan semua perkataanku.
Maafkan aku jika aku tak bisa membuatmu bangga terhadapku.
Maafkan aku, Ayah..

Ibu..
Tidakkah waktu berjalan begitu cepat? 
Masih ingatkah engkau dulu bagaimana aku selalu menangis ketika masih berada dalam buaianmu?
Maafkanlah aku karena aku selalu membuatmu lelah, Ibu..

Kini, ada seorang laki-laki yang bersedia merawatku. 
Dia berjanji akan selalu menjagaku dalam keadaan apapun sebagaimana engkau selalu ada untukku sampai saat ini.
Sungguh, aku tak sanggup jauh darimu.
Engkau adalah satu-satunya orang yang mampu menenangkan hatiku. Dan aku sangat bahagia dan beruntung bisa terlahir sebagai putrimu.
Terimakasih, Ibu..

Ibu..
Bisakah nantinya aku menjadi istri yang berbakti pada suamiku seperti engkau yang selalu berbakti pada ayah?
Bisakah aku menjadi seorang Ibu yang luar biasa sabar seperti dirimu?
Bisakah aku selalu menenangkan suamiku ketika beliau meluapkan amarahnya sebagaimana engkau melakukannya?

Ibu..
Aku takut sekali..
Aku masih ingin selalu berada di sisimu..
Aku belum ingin lepas dari pelukanmu..

Ayah..Ibu..putrimu ini tidak mampu lagi mengungkapkan bagaimana luar biasanya kalian.
Karena tak akan ada kata-kata yang tepat untuk itu.
Putrimu ini selalu mencintai kalian. Selalu menyayangi kalian. Selalu mendoakan kalian. 
Semoga suatu saat putrimu ini bisa menjadi orang tua yang luar biasa seperti kalian.

Kalian memang tak pernah mengatakan bahwa kalian menyayangiku.
Tapi, percayalah..aku tidak butuh itu karena sikap kalian selama ini sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan betapa besar sayang dan cinta kalian untukku.
Betapa beruntungnya aku berada di tengah-tengah kalian.
Maafkan aku karena kurangnya baktiku pada kalian selama ini..

Sekali lagi, maafkan aku ayah..ibu..
Aku mencintai kalian.

Dariku,
Putrimu.

SELAMAT MALAM, AYAH...


Hari ini aku baru sempat menyapamu tengah malam seperti sekarang ini. 
Maafkan aku ayah..hari ini aku sibuk sekali..
Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini.

Oiya, ini mungkin hari ke 1223 semenjak ayah pergi meninggalkan aku.
Aku merindukanmu ayah..
Semoga ayah selalu setia menunggu aku menyapamu setiap harinya.

Maafkan aku karena sekarang aku semakin sibuk dengan pekerjaanku.
Bila dulu aku bisa menyapamu minimal dua kali sehari, sekarang aku hanya bisa menyapamu sekali dalam sehari. Itupun ketika tengah malam menjelang seperti sekarang ini.

Bukannya aku mulai melupakanmu..tapi pekerjaan ini menyeretku ke dalam kesibukan yang begitu melelahkan.
Semakin melelahkan setiap harinya.
Jujur, aku lelah sekali ayah..
Aku ingin berhenti dari pekerjaan ini.

Sudah lama sekali aku ingin memeluk tubuh tegapmu dan menyampaikan semua keluh kesahku padamu.
Aku sungguh merindukanmu..

Ayah tak lupa kan? Besok aku genap berusia 26 tahun.
Bukankah putrimu ini tumbuh terlalu cepat?
Semalam aku bermimpi bertemu ayah.
Dan aku sungguh tak menyangka kalau ayah menanyakan satu hal yang membuatku tak bisa berkata-kata.

"Jadi, siapa seorang laki-laki beruntung yang sudah merebut putri kesayangan ayah?"

Oh.. ayah..aku malu sekali mengakui kalau aku masih sendiri semenjak kepergianmu.
Mungkin putrimu ini tak cukup cantik dan baik untuk menarik perhatian seorang laki-laki di luar sana.
Atau mungkin aku terlalu sibuk berkutat dengan komputer usang ini hingga melupakan bagaimana caranya menarik perhatian seorang laki-laki?

Apa aku terlihat sangat menyedihkan?

Tapi tak apa ayah..mungkin Tuhan belum menemukan seseorang yang cocok untuk menggantikanmu dihatiku.
Sungguh, cintaku masih hanya untukmu ayah.

Baiklah ayah..aku tidak mau selalu membebanimu dengan semua keluh kesahku ini.
Selamat beristirahat kembali ayah.
Dan aku berharap malam ini kau tak menyanyakan hal yang sama seperti malam kemarin.

Aku akan sangat malu ayah.
Jadi, kumohon..jangan tanyakan itu lagi..

PERIHAL MOBIL HITAM DI DEPAN RUMAH INA

Advertise

Safe Link Converter

Encrypting your link and protect the link from viruses, malware, thief, etc!
Made your link safe to visit.

How to use our tool:

  1. Click on How To Use menu above.
  2. Click on the code and CTRL + C on your keyboard.
  3. Paste the code in your HTML blog theme before the </body>.
  4. Save your HTML blog theme. you are done!
  5. Now, your blog's outbound links was encrypted!

Advertise

Your link show here

Advertise


Pagi ini membosankan. Sama membosankannya seperti pagi-pagi sebelumnya.
Pagi ini, Emak dan Bapak tak di rumah ketika aku bangun. Ini baru jam 5 pagi dan mereka sudah pergi?

Ini hari kamis, pasti mereka pergi ke kota. Pada hari kamis setiap minggu akan ada pasar lelang.
Lelang apa? Tentu saja macam-macam barang ada di pasar itu.

Kemarin malam emak bilang kalau pancinya sudah berlubang. Barangkali beliau hendak membeli panci disana.

Entahlah..aku malas ikut ke pasar lelang. Di sana panas dan kotor. Semua warga desa pelosok macam desaku ini pasti tumpah ruah kesana. Maklumlah, harga barang di pasar lelang jauh lebih murah daripada di pasar biasanya. Aku sendiri masih heran, kenapa harganya lebih murah padahal kualitasnya sama?

Aku selalu merasa kasihan dengan penjual di pasar biasa yang menjadi sepi pelanggan sejak adanya pasar lelang mulai bulan kemarin.

Warga desa macam kami ini rata-rata tak mempedulikan kualitas. Yang kami tau hanya seberapa besar selisih harganya.
Tentu saja kami akan memilih yang lebih murah.

Desaku ini lumayan jauh dari perkotaan, mungkin sekitar satu jam jika ditempuh dengan angkutan umum. Itupun kami harus berjalan kaki sekitar setengah jam agar bisa mencapai tempat pemberhentian angkutan umum.

Di desa kami jarang ada orang yang mempunyai kendaraan pribadi. 
Hanya Bapak Kepala Desa yang mempunyai satu buah sepeda motor. Itupun milik putranya. 
Namanya Aji.

Dia dulu satu sekolah dasar denganku. Tidak seperti Pak Kepala Desa yang ramah, Aji sangat sombong. Dia dulu tak pernah membalas sapaanku ketika kami bertemu di jalan. Dia bilang kalau aku tak pantas berkawan dengannya.

Dia anak orang berpunya, sedangkan Bapakku hanya petani biasa. Emak bekerja di rumahnya setiap hari jumat, biasanya beliau ditugaskan mencuci pakaian Aji.

Jangan heran, masing-masing anggota keluarga Pak Kepala Desa mempunyai buruh cuci sendiri.
Aku sendiri sempat tak setuju ketika emak mengatakan kalau dia jadi buruh cuci khusus untuk Aji.

"Aji itu tak sopan mak..bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali? Aku tak mau emak diperlakukan tak layak oleh Aji", suatu sore aku sedang berbincang dengan emak.

"Tak apa, nduk.. ini tugas langsung dari Pak Kepala Desa", ucap emak kala itu

"Tak bisakah emak mencuci baju Pak Kepala Desa saja? Beliau lebih murah hati mak..",

"Sudahlah..jangan khawatirkan emak..", kemudian emak tersenyum lebar layaknya baru mendapat undian.

Aku pasrah, semoga saja Aji tak bersikap buruk terhadap emakku.

Tapi, sepertinya doaku belum dikabulkan Tuhan.  
Suatu sore Aji datang ke rumahku. Emak dan Bapakku sedang tak di rumah kala itu.

"Heh..mana emakmu?", lihat..bahkan dia tak mengucapkan salam atau sekedar memanggil namaku.

"Emak sedang di sawah, ada apa?", aku masih berusaha sopan. Karena walau bagaimanapun Aji tetaplah anak Pak Kepala Desa yang aku hormati.

"Bilang sama emakmu, dia tak bersih mencuci bajuku! Buruh cuci seperti emakmu harusnya tak pantas dipekerjakan!", Dia membentak ke arahku.

Aku hanya diam. Orang sombong macam Aji tak pantas ditanggapi.
Dan yaaa..begitulah Aji. Selalu sombong dan tak mau menghargai usaha orang lain.

Eh..sepertinya aku menceritakan banyak hal tak perlu kepada kalian. Bahkan aku lupa memperkenalkan diriku.

Namaku Ina, umurku sekarang mungkin 18 tahun. 
Jujur, aku tak tau tanggal lahirku. Yang kutau aku lahir tepat satu hari setelah Aji lahir. Itupun emak yang menceritakan.

Jadi mudah saja bagiku untuk tau berapa umurku.
Pasti sama dengan Aji.

Oke baiklah..abaikan ocehanku pagi ini.
Aku terlalu lama melamun di teras rumah. Hari sudah terik tapi emak dan bapak belum jg kembali dari kota.

Apakah mereka kesulitan mencari angkutan umum?
Setelah cukup lama aku duduk di teras, kuputuskan memasak makan siang untuk emak dan bapak. Kami tak terbiasa makan pagi.

Cukup minum segelas air putih akan cukup untuk memberikan tenaga untuk kami sampai siang menjelang.

***

Matahari mulai merangkak turun menandakan hari sudah menjelang sore.
Tapi emak dan bapak tak kunjung pulang.
Aku mulai khawatir. Tapi aku tak tau harus melakukan apa.
Aku hanya mondar-mandir di depan teras dengan perasaan cemas yang semakin menjadi-jadi.
Kulihat Aji memandangku meremehkan dari depan teras rumah megahnya.

Oh iya, aku lupa mengatakan kalau rumahku berhadapan dengan rumah Aji. 
Aku balik memandang Aji tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Aku mulai muak dengan sikapnya.
Tak berselang lama, aku melihat cahaya lampu dari kejauhan. Seperti ada mobil yang akan lewat depan rumahku.

Mungkin itu tamu Pak Kepala Desa yang datang dari kota.
Sudah biasa kulihat pemandangan seperti ini.
Aku lelah menunggu emak dan bapak. 
Kemana saja mereka?

"Nduk Ina.. emak pulang..", suara emak mengagetkanku.

"Emak kemana saja? Kenapa lama sekali? Mana bapak?", aku mencari-cari dimana bapak.

Apakah beliau tidak pulang bersama emak?
Perlahan-lahan aku memandangi mobil yang terparkir di depan rumahku.
Bapak turun dari dalam mobil bersama seorang wanita tua yang kuperkirakan seumuran dengan simbah buyutku.

"Siapa dia mak?", 
Emak diam saja.

Beliau malah menggandengku untuk masuk ke dalam mobil berwarna hitam itu.
Perempuan tua itu ikut menuntunku masuk ke dalam mobil.

Sekilas kulihat air muka Aji yang heran memandang kearahku.
Tidakkah dia tau kalau aku sama herannya seperti dia?
Karena terlalu heran aku tak sadar jika mobil sudah melaju menjauhi rumahku. 
Aku duduk di belakang kemudi sendirian.
Tanpa emak dan bapak.

Pendingin ruangan mobil ini begitu menusuk tulangku.
Aku masih terlarut dengan keherananku sampai suara wanita tua itu menyadarkanku.

"Pasti akan ada banyak pemuda kota yang menginginkanmu, nak..", dia tersenyum tenang.

Apa maksud wanita tua ini? 
Pemuda kota? 
Aku tak paham.
Yang aku yakin sekarang adalah, hidupku tak akan pernah terasa sama lagi seperti dulu.
Mungkin lebih buruk, atau mungkin lebih baik.
Setidaknya aku tak akan pernah melihat wajah sombong Aji setiap harinya.
...

CERMIN BAPAK

Advertise

Safe Link Converter

Encrypting your link and protect the link from viruses, malware, thief, etc!
Made your link safe to visit.

How to use our tool:

  1. Click on How To Use menu above.
  2. Click on the code and CTRL + C on your keyboard.
  3. Paste the code in your HTML blog theme before the </body>.
  4. Save your HTML blog theme. you are done!
  5. Now, your blog's outbound links was encrypted!

Advertise

Your link show here

Advertise


“Dasar cermin tak berguna!”, untuk yang kesekian kalinya aku memaki cermin ini. Bagaimana bisa sebuah cermin terasa begitu buram? Bahkan dia sama sekali tak bisa menampakkan betapa rupawannya wajahku. Sia-sia saja aku bercermin kalau tak bisa melihat hasilnya. Sial!

Tok tok tok tok

“Bangun Nak..ini sudah siang..”, itu suara sok lembut emakku. Emak yang sama tak bergunanya dengan cermin di kamar jelekku ini.

“Aku sudah bangun. Mau apa?!”, teriakku masih sambil mematut diri di depan cermin buram ini.

“Tak apa, emak cuma memastikan saja. Emak khawatir sama kamu Nak..”.

Selalu begitu, selalu sok perhatian, berlebihan sekali emakku itu. Apakah dia lupa kalau anaknya yang tampan ini sudah genap berusia 24 tahun? Bagaimana bisa dia memperlakukanku seperti anak kecil? Perhatian yang dia berikan untukku itu tak berguna. Toh, aku akan masih terus hidup walau tak mendapat perhatian darinya. 

Aku keluar kamar dan mendapati emak masih berdiri di dekat pintu kamarku, ‘mau apa lagi dia?’

“Kamu mau kemana, Nak?”

“Mana makanan untukku? Aku lapar!”

“Kau tak ingat kalau hari ini hari pertama bulan Ramadhan?”

“Lantas apa urusannya denganku? Aku lapar dan aku butuh makan! Cepat sediakan makanan untukku!!”

“Tadi malam emak sudah membangunkanmu untuk sahur. Tapi kamu tak kunjung bangun juga. Emak pikir kau akan menyusul untuk sahur, dan emak menunggu disini..tapi ternyata kamu tak bangun juga. Maafkan emak”

“Aku tak butuh permintaan maaf! Aku butuh makan! Dengar tidak?! Kalau kau tak mau menyiapkan makan untukku. Biar aku pergi saja! Merepotkan sekali kau ini!”

Kulihat emakku beringsut menjauhi pintu kamarku dan membiarkan aku lewat.

Oh! Dan ekspresi sedih dari wajahnya itu membuatku muak! Dia sama sekali tak pernah memperlihatkan ekspresi yang menyenangkan untukku. Kecuali ketika dulu masih ada Bapak.

Dan bicara mengenai Bapak, dia sudah pergi. Bapak pergi ke surga, di Rumah Allah. Itu kata emak ketika aku menanyakan dimana Bapak ketika usiaku baru enam tahun. Sekarang usiaku dua puluh empat tahun dan aku tidak bodoh! Jadi aku tau kalau Bapakku itu sudah meninggal. 

Dan kalian tau? Cermin buram yang ada di kamar jelekku itu adalah pemberian Bapakku keyika usiaku lima tahun.

“Sering-seringlah bercermin dengan cermin ini Nak..karena dari cermin inilah Bapak bisa melihat bagaimana pertumbuhanmu, bagaimana perubahan wajahmu. Dan bapak yakin ketika kamu dewasa nanti, wajahmu akan berubah menjadi sangat rupawan.”

Itu dulu ucapan dari Bapakku yang masih dapat kuingat. Dan aku membenarkan kalimatnya yang terakhir. Aku memang menjadi sangat rupawan sekarang. Kalian bertanya mengapa aku bisa menghafal kalimat sepanjang itu di usiaku yang baru lima tahun?

Bukankah tadi sudah kukatakan kalau aku ini tidak bodoh, aku ini cerdas! Jadi kalimat itu akan mudah terserap di otakku tanpa aku perlu menghafalnya!

Tapi, ada satu hal yang masih belum aku mengerti sampai sekarang. Bagaimana bisa Bapak melihatku dari cermin buram itu? Sedangkan aku sendiri saja tak bisa melihat wajahku dengan jelas. 

Lalu, darimana aku tau kalau aku mempunyai wajah yang rupawan?

Semua orang yang berpapasan denganku mengatakan betapa rupawan dan tampannya aku. Jadi bagaimana bisa aku mengingkari itu?

Dan karena aku bercerita terlalu banyak pada kalian. Aku menjadi semakin lapar. Aku meninggalkan rumah jelek ini dan bergegas mencari kawan-kawanku. 

Biasanya aku dan kawan-kawanku berkumpul di pertigaan sebelum masjid. Ternyata di luar sudah terik. Jam berapa ini?

Dari kejauhan kawan-kawanku sudah berteriak memanggil namaku. Aku melambaikan tangan dan bergegas menghampiri mereka. Dan hari ini akan aku habiskan bersama mereka.

* * *

Sekitar jam sembilan aku sudah sampai rumah. Dan emakku menyambutku di depan pintu dengan ekspresi sedihnya itu. Menyebalkan!

“Kamu sudah makan, Nak? Emak menunggumu untuk buka puasa di rumah, tapi sampai emak pulang tarawih kamu ternyata belum pulang. Kamu mau makan sekarang? Biar emak hangatkan dulu sayurnya.”

“Jangan banyak bicara, cepat siapkan makanan untukku. Kau tau? Gara-gara kau tak menyiapkan makanan untukku tadi pagi aku hanya makan mi instan di warung Kang Diman. Jadi cepatlah hangatkan makanan itu!”

Tanpa banyak bicara lagi, emak segera berlari kecil menuju dapur dan menyiapkan makanan untukku.

“Nak, apa kamu butuh celana baru?”

“Tak bisakah kau berhenti menanyakan hal itu? Lagipula aku sedang makan, jangan menggangguku!”

Kulirik emak yang langsung diam ketika aku membentaknya. Aku paling tidak suka diganggu ketika makan.

“Aku sudah selesai! Aku mau tidur!”

“Apa kamu ingin emak jahitkan celana? Emak perhatikan kau tak pernah mengganti celanamu”

“Tak usah! Aku suka celana ini!”

“Tapi itu sudah robek, Nak..tidakkah kamu malu? Biasanya kamu malu jika bajumu robek dan menyuruh emak untuk menjahitkannya”

“Ini robek karena aku sengaja merobeknya, dan tak taukah kau kalau celana seperti ini yang juga dipakai oleh kawan-kawanku? Jadi diamlah! Aku tak butuh celana jahitanmu! Dan berhenti memaksaku untuk memakai celana yang akan kau jahitkan untukku! Aku akan pergi tidur, dan berhenti menggangguku!!”

“Tadi kamu tarawih dimana Nak? Emak tak melihatmu tarawih di masjid dekat pertigaan”

Aku mengabaikan pertanyaan emakku dan berlalu menuju kamarku.

Ah! Semakin menyebalkan saja emakku itu! Aku malas tarawih! Dan untuk apa juga aku tarawih? Membuang waktu saja!

Begitulah, setiap hari emak selalu menanyakan apakah aku butuh celana baru atau tidak. Jika dia tak menanyakan tentang celana. Dia selalu memintaku untuk menjadi imam ketika dia sholat. Bagaimana aku bisa jadi imam kalau cara sholat saja aku sudah lupa? 

Terakhir kalinya aku sholat adalah ketika usiaku enam tahun. Waktu itu bapak yang menjadi imamnya. Dan yang kuingat waktu itu adalah betapa bahagianya keluarga kami. Sampai akhirnya Bapak meninggal karena sebuah kecelakaan konyol yang disebabkan oleh emakku.

Emak membakar rumahku!

Bukan rumah jelek ini. Dulu kami tinggal di rumah yang jauh lebih baik dari rumahku yang sekarang. Emak bilang dia sungguh tak sengaja melakukannya, tapi aku tak percaya! Dan sampai sekarangpun aku tak akan percaya. 

Setelah sholat berjamaah itu, aku melihatnya dengan jelas menyalakan api di dapur. Dia tidak memasak, dia hanya menyalakan api. Dia membiarkan api itu semakin membesar dan setelah itu dia memintaku untuk keluar dari rumah

Tentu saja aku tak mau!

Bapakku masih ada di dalam rumah, bagaimana mungkin aku meninggalkannya?

Tapi emakku yang menyebalkan ini memaksaku untuk ikut dengannya meninggalkan bapakku.

Dia mengajakku ke rumah Pakdhe Joko dan mengatakan bahwa dia tak rela jika Bapak hidup lebih lama lagi.

Benar saja, keesokan harinya aku mendengar kematian Bapakku. Terpanggang di dalam rumahnya sendiri.

Dari semua kejadian yang kusaksikan sendiri itu, bagaimana mungkin aku bisa percaya kalau emakku memang tak sengaja melakukannya??!!

“Adit tak usah bersedih, Bapak sudah pergi ke surga, ke Rumah Allah”, begitu kata emakku ketika itu.

Aku benci emakku! Dia yang membunuh Bapakku!

Ketika aku bangun keesokan harinya, emak sudah tak ada di rumah Pakdhe Joko bersamaku. Keman dia setelah membunuh Bapakku?!

Kata Pakdhe Joko, emak depresi ketika perusahaan Bapak bangkrut. Jadi dia menjadi membenci Bapak dan tak ingin melihat Bapak lagi.

Depresi? Bangkrut? Aku tak mengerti apa maksud Pakdhe Joko saat itu. Usiaku baru enam tahun dan aku sudah kehilangan Bapak dan Emak dengan cara yang sangat tak aku mengerti. Jadi aku hanya diam saja dan menurut untuk tetap tinggal bersama Pakdhe Joko dan mulai bersekolah disana.

Setelah sepuluh tahun kepergian emakku, dia kembali lagi. Ketika itu usiaku sudah enambelas tahun dan baru menamatkan Sekolah Menengah Pertamaku. 

Pakdhe bilang kalau aku bisa langsung melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas. Tapi emakku membawaku pergi. Aku berpikir dia akan membiarkan aku melanjutkan sekolahku. Tapi dia mengatakan bahwa tak ada biaya untuk melanjutkan sekolahku.

Hah! Aku semakin membenci emakku!

* * *

Seperti biasanya, aku mematut diri di depan cermin buram sebelum pergi bersama kawan-kawanku. Aku tak akan pernah bosan bermain bersama mereka. Karena hanya bersama mereka aku merasa bebas. Dan tentu saja aku tak akan menjumpai ekspresi menyedihkan dari wajah emakku itu.

“Dit, apa kamu tak ingin mencoba berbaikan dengan emakmu? Kasihan..beliau selalu menanyakan keadaanmu padaku”. Oh, itu suara Arya, satu-satunya kawanku yang mengetahui masalahku dengan emakku.

“Apa maksudmu?”

“Emakmu khawatir padamu Dit, lagipula kejadian itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Tak bisakah kau mencoba memaafkan emakmu?”

“Berhenti menceramahiku! Bertahun-tahun aku berkawan denganmu, dan baru hari ini kau menjadi sangat menyebalkan hanya karena kau membela emakku! Kau sama menyebalkannya dengan dia!”

Entah kenapa aku jadi malas bersama kawan-kawanku hari ini. Kuputuskan untuk keliling kampung saja. 

“Mas Adit..Mas Adit..”, suara siapa itu?

Aku menoleh dan melihat seorang anak lelaki berusia sekitar enam tahunan berdiri di belakangku sambil menarik-narik ujung kaosku. Melihatnya seperti melihatku ketika kecil dulu.

“Mas Adit mau kemana? Aku boleh ikut?”

“Hei! Anak siapa kau? Kenapa tampan sekali sepertiku?”

“Benarkah aku tampan seperti Mas Adit?”

“Ya, tentu saja! Siapa namamu?”, aku berjongkok untuk mengimbangi tinggi anak kecil ini.

“Namaku Adit”, ujarnya malu-malu

“Bahkan, nama kita sama. Kau benar-benar mirip seperti aku waktu kecil dulu. Ngomong-ngmong kau mau kemana, Adit?”

“Aku ingin ikut ke rumah Mas Adit, maukah Mas Adit mengajakku?”

Aku kan tidak ingin pulang ke rumah. Bagaimana ini? Aku tak tega jika harus mengabaikan anak kecil ini. Terlebih lagi dia sangat mirip denganku.

“Hmmmmm..baiklah, mari Mas Adit gendong kamu”

“Aku bukan anak kecil, Mas..aku bisa berjalan sendiri. Cukup tuntun saja tanganku ke rumah Mas Adit”

Bahkan cara bicaranya seperti aku ketika kecil dulu. Siapa sebenarnya anak ini? 

“Mas Adit, aku lapar..apakah ada makanan?”, baru saja aku membuka pintu rumah dan anak kecil ini sudah meminta makan?

“Apa mas Adit heran? Kata emak, aku belum boleh puasa dulu. Nanti kalau aku sudah dewasa seperti Mas Adit barulah aku boleh berpuasa”, belum sempat aku berkata apa-apa dia sudah berucap seperti itu.

Aku ingat kata emak dulu, ketika usiaku seperti anak ini aku juga bersikeras ikut puasa. Tapi emak melarangku karena belum waktunya aku puasa. Padahal dulu Bapak sudah mengizinkan aku latihan puasa, tapi emak tetap melarangku.

“Mas…aku kan lapar..”, suara anak ini membuyarkan lamunanku tentang emakku yang sangat mirip emak dari anak kecil ini. 

Kuputuskan untuk memberinya makanan tadi pagi yang sudah disiapkan emak untukku, jam segini emak pasti ke ladang. Syukurlah dia tak di rumah. karena aku sedang tak ingin melihat wajahnya.

“Aku sudah kenyang Mas, aku ngantuk. Aku ingin tidur di kamar Mas Adit. Harus boleh!”. Bahkan cara dia memaksa sama sepertiku dulu. 

Ketika dia pertama kali masuk kamarku, dia langsung mematut diri di depan cermin buram pemberian Bapak. 

“Wah..ternyata aku memang sangat tampan seperti Mas Adit!!”, ujarnya girang

Tapi tunggu dulu..bagaimana mungkin wajahnya terlihat begitu jelas di depan cermin buram itu? Sedangkan aku yang berdiri di sampingnya sama sekali tak bisa melihat pantulan wajahku dengan jelas. Apa yang salah disini?

Aku memandang pantulan wajah anak kecil ini di dalam cermin. Dia benar-benar seperti aku. Bukan! Bukan seperti! Tapi anak ini adalah aku! Bagaimana bisa?

“Adit tau kalau sebenarnya Mas Adit sangat menyayangi emak, tapi Mas Adit hanya tak mau mengakuinya. Adit juga sayang sama emak. Emak yang sudah menjahitkan celana bagus ini untuk Adit, emak juga yang menjahitkan kaos biru kesayangan Adit ini ketika kaos ini robek tersangkut paku. Adit sayang sama emak. Kalau nggak ada emak, pasti Adit juga nggak ada”

Aku terdiam cukup lama meresapi kalimat Adit kecil. 

Aku ingat betapa dulu emak sangat menyayangiku. Sebenarnya aku sangat membenci emak karena keegosianku sendiri. 

Aku terlalu pengecut untuk mengakui bahwa aku sangat menyayangi emakku. Emak yang selalu menjahitkan celana dan kaos kesayanganku. Emak yang selalu perhatian padaku.

Bagaimana bisa aku membencinya selama bertahun-tahun seperti ini? Apa yang sudah kulakukan? 

Perlahan, aku memandangi pantulan diriku di dalam cermin ini dan melihat bayangan Adit kecil tersenyum padaku. Aku menangis dalam diam. 

Bukan cermin buram ini yang tak berguna, tapi mata hatiku lah yang tertutup untuk menyadari keegoisanku.

Bukan emak yang tak berguna, tapi akulah anak yang tak berguna karena bertahun-tahun hanya mampu membencinya.

Kulihat sekali lagi pantulan diriku di cermin buram ini, tapi..dimana Adit kecil? Sekarang aku hanya melihat pantulan diriku dengan jelas. Aku ulangi. DENGAN JELAS!

Aku berlari menuju kamar emakku. Aku melihat sebuah celana berwarna abu-abu, warna kesukaanku tergeletak di atas ranjang emak. 

Betapa aku sangat merindukan emak..

Aku bersalah Mak, maafkan aku…

Aku menangis dalam hening kamar emak. Tertidur dan bermimpi menggandeng tangan emak menuju masjid dekat pertigaan untuk sholat tarawih bersama.

* * *

Tutycha F. Karisma
16 Juli 2014
11:53am

AKU


Aku tak bisa membunuh semuanya walaupun aku menginginkannya.

Akupun tak bisa membunuh jiwaku sendiri walaupun aku sangat menginginkannya.

Aku bukan Tuhan!

Aku juga bukan Malaikat!

Aku hanya manusia biasa, selalu diremehkan, direndahkan, dianggap gila!

Aku terima, apapun itu aku rela!

Tak ada gunanya jika aku membantah, melawan, apalagi mematikan!

Aku tak berhak!

Jika saja aku bisa merasakan hidup yang sesungguhnya..
Aku bosan dengan semua ini!

Aku butuh ruang untuk bernafas!

Aku butuh tempat untuk berteduh!

Aku butuh..

Disini sempit!

Namun, tak ada gunanya aku menyesali apa yang ada. Tak ada artinya aku menyalahkan apa yang telah tertulis.

Sekali lagi, aku manusia biasa!

Bodoh!

Gila!

Apapun yang mereka katakan tentang aku, aku terima!

Mereka "DEWA"

Aku "MANUSIA BIASA"

***

Tutycha F. Karisma