RUMAH 26 LANGKAH


Sampai kapankah kau ingin bertahan untuk hidup?

Apa yang kau cari dari kehidupanmu yang sekarang?

Sudahkah kau temukan jawabannya?

Aku termangu, memandang keluar jendela kamarku. Tak banyak yang terlihat. Hanya tumpukan sampah yang kian menggunung. 

Kotor, bau dan menjijikkan. Tentu saja!

Sebenarnya aku tak ingin tinggal disini, siapa yang menginginkan hidup di tempat seperti ini? Nyamuk? Atau lalat? Atau kutu? 

Semua hewan itu menjijikkan! Dan aku tidak ingin tampak menjijikkan seperti mereka. 

Tapi, ibu memaksaku untuk tinggal disini. Kata ibuku, dulu aku memang ditemukan di tempat ini. 

Tempat yang kotor dan kumuh. Mana aku tahu? Dulu umurku mungkin baru 1 bulan.

Karena.…aku dibuang! Anggap saja aku adalah anak yang tak diinginkan orang tuaku, atau mungkin aku anak haram? 

Di umurku yang baru 6 tahun, aku terlalu banyak memikirkan hal yang seharusnya belum saatnya aku memikirkannya. Sebutan anak haram itu aku tau dari tetanggaku, rumahnya 26 langkah dari rumahku. Dia sering sekali mengejekku. Padahal aku tak pernah mengejek mereka. Lagipula mana berani aku mengejek mereka yang lebih tua dari aku?

Tetanggaku itu mempunyai banyak sekali anak. Karena aku baru belajar berhitung di rumah singgah, mungkin hitunganku ini kurang tepat. Kira-kira mereka mempunyai 12 anak. Dan aku berpikir, untung saja dulu aku tidak ditemukan oleh mereka. Jika saja itu benar terjadi maka aku akan menjadi anak ke 13 mereka. 

Sungguh mengerikan. Rumah mereka ukurannya tak jauh berbeda dari rumahku. Dan aku berpikir, bagaimana aku harus berbagi kamar dengan kedua  belas saudaraku??

Sudah kukatakan tadi, aku memang terlalu banyak berpikir. Mungkin karena terbiasa. Ibuku seorang pemulung, mengais rejeki dari sisa orang lain.

Dan lagi-lagi aku berpikir. Jika saja semua orang dilahirkan miskin seperti kami, harus mengais sisa siapa kalau yang lain juga sama-sama ingin mengais sisa? 

Hidup ini terlalu rumit untukku.

Sore ini, aku ikut ibuku untuk ke perumahan seberang rumahku untuk mencari barang-barang bekas, tentu saja. Dan seperti biasanya, aku selalu ingin berhenti di depan sebuah rumah indah berpagar besi bercat hijau yang sangat megah. 

Betapa kayanya orang yang tinggal di rumah itu. 

Betapa bahagianya hidup mereka. Betapa senangnya anak dari pemilik rumah itu.

Betapa beruntungnya mereka. Betapa…

Ibu selalu menegurku ketika aku terus-menerus memandangi rumah itu. Kudengar beberapa hari lalu ada seorang pemulung seperti kami yang bertingkah seperti aku. Dan ternyata dia ingin mencuri dari rumah itu. Tapi aku kan tidak seperti dia. Aku hanya kagum.

Memang benar aku miskin, tak punya duit, tapi aku tak pernah berpikir untuk mencuri. Sekalipun tidak pernah! Ibuku selalu mengajarkan hal-hal baik padaku, jadi aku tak mungkin melakukan hal buruk. Dan menurutku mencuri adalah hal buruk.

Suatu ketika, aku berpikir siapakah orangtuaku yang sebenarnya? Apakah orangtuaku juga miskin? Mereka membuangku karena tak mampu membiayai hidupku?

Ataukah orangtuaku sangat kaya? Dan mereka membuangku karena aku jelek? Atau karena kakek-nenekku tak menginginkan cucu perempuan? Aku lelah jika berpikir tentang hal ini. Kuputuskan untuk tidur saja. Dalam tidurku aku berdoa semoga aku segera bertemu orangtua kandungku.

*  *  *

Ketika aku menjejakkan kaki di rumah ini, aku merasa sangat berdosa. Rumah ini adalah rumah yang selalu aku benci. 

Rumah yang berjarak 26 langkah dari rumahku. 

Tak kusangka sekarang jaraknya hanya 16 langkah. 

Kakiku sudah bertambah panjang seiring bertambahnya umurku. Sekarag aku limabelastahun. Dan sekarang aku enggan memikirkan apapun. 

Karena apapun yang aku pikirkan tak pernah sesuai dengan keinginanku.

Tutycha F. Karisma
07 November 2013
02.01pm