KETIKA


Ketika aku mulai membuka mata, gelap. Tak ada cahaya, tak ada seorangpun di sekitarku, tak ada angin berhembus yang menyejukkan, tak ada yang bisa kulakukan, aku benar-benar merasa hampir mati dalam tidurku.
Apa yang terjadi padaku?

Aaarrgggghhhhhhh!!!

Aku menjerit, tapi tak kudengar suara jeritanku sendiri. Apa yang terjadi disini? 
Aku heran, dimana ibu? Dimana ayah?

Kenapa aku benar-benar merasa sendirian? 
Aku bangkit, sungguh sulit. Jauh lebih sulit dari yang kubayangkan. Kucoba bangkit lagi, bersusah payah aku mencoba menegakkan tubuhku.

Aku berjalan pelan, tak berdaya, tubuhku serasa remuk redam. Selangkah demi selangkah aku menyusuri jalan yang ada di depanku. 
Langkahku terasa berat, seperti ada yang menarik kakiku dari belakang.

***

Ibu menangis, menangis sejadi-jadinya. Ayah tampak murung, mereka ini kenapa?

Bukankah seharusnya mereka senang menyambut kedatanganku?
Sudah sekitar 4 tahun aku meninggalkan mereka, maafkan aku ibu..ayah..

Aku hanya ingin membahagiakan ibu dan ayah, dengan menjadi seorang Tenaga Kerja di luar negeri, aku pikir akan menghasilkan banyak uang dan aku bisa memberangkatkan ayah dan ibu ke tanah suci.

Tapi, bukan tangis ibu dan wajah murung ayah yang kuharapkan ketika aku pulang..

Aku ingin ibu dan ayah bahagia ketika aku pulang.

"Ibu, Ninis kan sudah pulang, kenapa ibu malah menangis?", aku duduk di sebelah ibu dan bertanya. Ibu tak menoleh padaku, sedikitpun!

"Ayah, jangan sedih..Ninis kan pulang dengan selamat", kupandangi wajah ayah yang murung, seperti ada hal yang begitu menyedihkan menimpa dirinya.

"Kenapa malah seperti ini, Nis? Ibu mau kamu bahagia, bukannya begini jadinya", Ibu kembali terisak.

"Ninis bahagia, Bu..Ninis bahagia karena sudah bisa mengantar Ibu dan Ayah ke Tanah Suci, sungguh Bu..Ninis bahagia..", ucapku meyakinkan ibu.

Lagi-lagi Ibu tak menghiraukan aku, mungkin ibu marah padaku karena selama 4 tahun aku tak pernah memberikan kabar.

"Sudahlah bu..mungkin memang ini yang terbaik untuk Ninis", ucap ayah. Apa yang dibicarakan ayah?

"Tapi ini terlalu cepat, ibu belum ingin melihat Ninis yang seperti ini",

Apa yang dibicarakan ayah dan ibu? Ninis baik-baik saja. Kenapa mereka tak menjawab pertanyaanku??

Aku keluar dari kamar ibu, di luar ada banyak orang. Sedang apa mereka? Oohhhh...apakah ini sambutan untukku?? Aku bahagia sekali.

***

Semakin aku melangkah, semakin berat rasanya. Ada apa dengan kakiku?

Di sekitarku masih gelap, remang-remang aku melihat ada seseorang yang mengawasiku.

"Siapa disana??", tak ada jawaban. Kulanjutkan langkahku, masih heran. Sebenarnya aku ada dimana?

Di ujung jalan, aku melihat seorang wanita paruh baya yang menantiku. Di usianya yang menjelang senja, masih tergambar jelas gurat-gurat kecantikannya di masa lalu.

Selamat datang, Nak..", hanya itu yang diucapkannya sambil tersenyum dan menuntunku berjalan, tapi entah kenapa langkahku tak pernah terasa ringan.

***

Ayah dan Ibu keluar setelah ada yang mengatakan..

"Dia sudah datang",

Jadi, ini bukan acara penyambutan untukku?? Lalu, untuk siapa?? 
Mobil ambulance memasuki halaman rumahku.

"Kenapa pakai ambulance? Apakah orang itu sudah mati?", tanyaku pada ibu.

Ibu menangis, kali ini jauh lebih menyayat hati dari sebelumnya. 
Aku mengikuti ibu dari belakang, beberapa laki-laki berseragam putih-putih membawa seseorang. 
Benar. Dia sudah mati, tampaknya dia sudah mati seminggu yang lalu.

Tapi siapa dia?? Kenapa dibawa ke rumahku?? Apakah salah satu saudara kami yang ditemukan mati di jalan? 
Ah..kurasa tidak mungkin, kebanyakan saudara kami ada di luar kota.

Ayah menuntun para laki-laki berseragam itu memasuki rumah, jenazah yang dibawa mereka diletakkan di tempat yang telah disediakan ayah.

"Maaf pak, ini ada uang asuransi dan juga uang kiriman dari putri bapak", ucap salah satu laki-laki itu.

Apa?? Uang kiriman dariku baru sampai sekarang?? Padahal aku sudah mengirimnya dua minggu yang lalu.

"Terimakasih Nak, apakah malaysia sejauh ini? Sampai satu minggu jenazahnya baru sampai?", tanya ayah.

"Jenazah saudari Ninis harus diotopsi dahulu di rumah sakit, dan itu memerlukan waktu yang cukup lama. Selain itu, kasus kematiannya belum dapat dipecahkan. Mungkin nanti sore pihak kepolisian akan berkunjung kemari pak..",

Jenazah saudari Ninis? Bukankah itu namaku? Jenazah? Apakah aku sudah....

Kualihkan pandanganku dari laki-laki berseragam itu, kulihat ayah membuka kain penutup jenazah itu, dan ternyata...

Benar! 
Aku melihat wajahku sendiri yang telah pucat disana, aku memang sudah mati?

Aku.........mati...........

Jalan yang kulewati kemari adalah jalanku selanjutnya? Kukira itu hanya mimpi, ternyata memang benar. Jadi, aku berjalan diantara orang-orang yang sudah mati??

Wanita paruh baya yang menggandengku juga sudah mati?? 
Aku benar-benar telah memasuki kehidupan baru.

"Ibu..tolong jangan tangisi aku..jalanku terasa sangat berat di sana, aku mohon bu...", ucapku menghiba pada ibu. 
Mungkin ibu tak mendengarkan aku, tapi kuharap beliau mengerti.

***

"Telah ditemukan sesosok mayat di lantai dasar sebuah apartemen di Malaysia kemarin malam, setelah diidentifikasi ternyata itu adalah mayat salah seorang Tenaga Kerja asal Indonesia bernama NINIS MULYANI yang diperkirakan terjun dari lantai 8 sebuah apartemen tersebut. Untuk tindakan selanjutnya, kepolisian akan segera menghubungi pihak keluarga yang bersangkutan.
Sekian lintas global kali ini.

***

Tutycha F. Karisma
Rembang, 28 Juli 2011
10:10am