HAI


“Hai”, aku menyapanya.

Dia diam.

“Hai”, kuulangi lagi.

Dia tetap diam, sampai keenam kalinya aku memanggil dia tetap diam. Dan ketujuh kalinya aku memanggilnya dengan menepuk bahunya. Dia menoleh. Akhirnya..

Dia tersenyum simpul kemudian pergi meninggalkanku begitu saja.

“apa dia bisu? Kenapa tak menjawab panggilanku?” batinku bertanya-tanya. Apa aku yang terlalu percaya diri dengan mengajaknya berkenalan duluan? Dia pasti berpikir yang bukan-bukan tentang diriku. Gadis macam aku ini yang mencoba berkenalan dengan seorang pria terlebih dulu? Karena biasanya gadis-gadis pada umumnya akan diam dan menunggu sang pria mengajaknya berkenalan terlebih dulu.

Tapi di halte ini sepi, dan aku tidak bisa berdiam diri tanpa melakukan apapun. Beberapa hari ini, Ana temanku tidak masuk sekolah karena pergi ke Rumah Pamannya yang di luar Jawa. Maka aku jadi sendirian, tidak ada yang menemaniku menunggu bis sepulang sekolah seperti biasanya.

Dan berhari-hari ini juga aku selalu melihatnya disini. Selalu diam dan memperhatikan sekitar. Karena aku terlalu penasaran, kuberanikan diri untuk menyapanya hari ini. Tapi apa yang kudapatkan tadi? Sebuah penolakan? Pertama kali menyapa seorang pria dan ditolak terdengar sangat menyedihkan.

Akhirnya kuputuskan mengabaikan ‘penolakan’nya tadi karena ada sebuah bis umum yang berhenti tepat di depanku dan dengan ramah dia memintaku segera masuk dan melupakan apapun kejadian di halte ini.

Pada hari berikutnya, aku tidak sendirian menunggu bis di halte ini. Ana sudah pulang. Syukurlah..

Dan tanpa aku duga, pria yang kemarin ‘menolak’ku tersenyum padaku! Bukan senyum simpul seperti kemarin, tapi dia tersenyum manis. Sangat manis sampai-sampai aku tak menghiraukan bagaimana bentuk bibirku yang menganga terlalu lebar akibat terlalu takjub pada senyumnya.

“Hei! Kau kenapa?” itu suara Ana yang berhasil menyadarkan aku dari senyum manis pria itu.

Aku tak berminat menanggapi pertanyaan Ana. Jadi kuputuskan untuk tetap memandang pria itu. Dan aku membalas senyumnya! Hei! Kenapa bibirku tak mau bekerja sama dengan akal sehatku? Ini menyebalkan!

“Hei!!!!” kali ini suara Ana lebih keras dari yang pertama tadi.

“Aku tak apa-apa Ana, tenanglah..jangan membuat keributan disini. Memalukan”

“Kau kenal pria yang tersenyum manis itu?”

Aku tergagap. Ternyata Ana jauh lebih cepat tanggap daripada perkiraanku.

“Tidak.”

“Benarkah kau tak mengenalnya?”

“Tidak.”

“Tapi bukankah dia tersenyum padamu?”

Oh Sial! Ana begitu mengganggu.

“Jangan katakan kau tak mengenalnya, kalau pada kenyataannya kalian berdua saling melempar senyum seperti ini”

Oh Anaaa!! Apa maumu??

“Aku memang tak mengenalnya, Ana!”

“Kau tak bisa membohongiku, Dela..”

“Lagipula apa untungnya aku membohongimu, Ana?”

Aku memandang Ana yang masih tampak penasaran. Tapi aku kan memang tak berbohong padanya.

“Dela! Dia pergi!”

Aku terkejut, dan melihat punggung pria itu sudah semakin menjauh dari halte. Ini gara-gara Ana yang terlalu banyak bertanya padaku sehingga membuatku tak bisa memandang senyum manisnya untuk lebih lama lagi.

*  *  *

Di hari-hari berikutnya, aku tak pernah melihat pria itu lagi.

Dia pria yang tak membalas sapaanku, dan hanya tersenyum simpul padaku.

Sapaan “Hai” yang sangat ringan dariku, tapi dia tak membalasnya!

Tapi dia satu-satunya pria yang mempunyai senyum begitu manis diantara semua pria yang pernah kutemui.

Dan kenapa aku begitu merindukan senyum itu?

*  *  *

Tutycha F. Karisma
4 Juli 2014
10.49am