D.I.A


Semua berjalan normal sebelum aku bertemu denganmu.

Semua baik-baik saja sebelum aku mengenalmu.

Semua tampak seimbang sebelum aku pertama kali melihatmu.

Semua terasa tanpa beban sebelum aku pertama kali menjabat tanganmu.

Dan sekarang, semua terasa hampa ketika aku tak lagi bersamamu.
*  * *

Cinta sejati?

Happy-ending Love Story?

Aku merasa semua itu hanya ada di dalam cerita-cerita fiksi remaja maupun novel-novel roman. 
Nyatanya, aku tak mempercayai itu.
Bagiku, tak ada cinta sejati.

Tak ada akhir bahagia. 
Karena aku sendiri tidak pernah mengalami itu. Kalian mengatakan kalau aku munafik? Bukan! Aku hanya tidak mempercayai itu. Tolong bedakan.
Aku hanya pernah jatuh cinta sekali. Dan itu terasa sangat menyakitkan. 

Seorang temanku mengatakan “mencintai, dicintai, dan jatuh cinta tidaklah sakit. Jika kau merasakan sakit, maka itu bukan cinta”.
Dan begitulah. Setelah aku memahami kalimat itu, aku tahu bahwa aku tidak pernah jatuh cinta. 

Aku benci mengatakan ini, tapi apa benar ini cinta kalau aku merasakan sakit? 
Bukankah cinta itu sumber kebahagiaan?

Lalu, kenapa jantung ini terasa berdetak lebih cepat jika ada dia disekitarku? Kenapa ada yang aneh ketika aku tak melihatnya walaupun hanya sekali? Kenapa duniaku terasa berhenti berputar ketika dia tersenyum kepadaku?
Katakan kalau aku tidak ingin mengakui ‘rasa aneh’ ini. 

Tapi aku benar-benar tidak percaya kalau saat ini aku sedang jatuh cinta. Bukan! Bukan maksudku untuk berusaha menutupi keanehan dalam diriku. 

Tapi aku benar-benar belum bisa mempercayai ini semua. Aku bahkan tak pernah memilih Dia untuk menjadi cintaku, cinta pertamaku. 
Tapi nyatanya hatiku memilih Dia. Menyedihkan memang.
Pada awalnya aku berusaha untuk mempercayai bahwa aku mulai mencintainya, dan tentu saja aku berharap dia membalas cintaku. Dan pada akhirnya, aku hanya bisa berusaha percaya kalau aku memang telah benar-benar mencintainya.

Aku tidak akan menarik kembali kata-kataku bahwa aku tidak percaya cinta.  Karena sekarang aku akan berusaha mempercayai cinta sejalan dengan aku mempercayai Dia yang mengatakan bahwa dia mencintaiku (juga). 

Semua tampak sedikit berbeda, karena ada seseorang yang mencintaiku dan aku juga mencintainya. 
Semua berjalan sedikit berbeda karena ada Dia. 
Terasa indah? Entahlah..

Tapi, bukankah seharusnya Dia menjagaku? Melindungiku dan menyayangiku lebih dari sebelumnya? Pada kenyataannya, Dia bersikap biasa saja. 
Dia bersikap seperti ketika Dia belum mengenalku. 
Dia tidak memperlakukanku secara istimewa. 
Perhatiannya padaku juga tak lebih dari sebelum Dia mengatakan bahwa Dia mencintaiku. 
Jika kalian menganggap aku menginginkan perhatian atas nama cinta, bukan seperti itu sepenuhnya maksudku.  
Aku hanya ingin tau apa perbedaan sebelum aku mengenal cinta dan ketika ada seseorang yang memperkenalkan cinta kepadaku. 
Tapi ternyata tidak ada bedanya. 

Apa kalian masih ingin memaksaku untuk mempercayai cinta?
Perlahan, aku merasa jenuh.
Semua kata cinta yang Dia ucapkan terasa semu, tanpa ada pembuktian.  
Hey! Jangan protes terhadapku, karena aku hanya mengatakan yang sejujurnya.

Baiklah, semua cerita memang mempunyai dua sisi. 
Dan karena sekarang kalian sedang mendengarkan cerita dari sisi-ku, maka beginilah ceritanya. 
Jika kalian ingin mendengarkan cerita darisisi-nya, aku tidak tau harus menjawab apa. 

Karena jujur saja aku tidak tau, tidak ingin tau, tidak berminat untuk tau dan bahkan aku tidak peduli bagaimana dia menceritakan ini pada kalian.

Yang aku tau sekarang adalah, semua sudah berakhir.

Apa ada yang mengusulkan untuk aku mencari cinta yang baru? 
Oh, ayolah..bahkan aku tidak pernah berpikir untuk mencari cinta yang ‘baru’ karena kalian pun tau, aku tak pernah menganggap kalau aku pernah merasakan cinta dan pada dasarnya sampai sekarang aku tidak bisa mempercayai jika ada seseorang yang mengatakan bahwa dia mencintaiku. 

Menyedihkan? Aku tak peduli lagi.
Apa aku terlihat begitu terpuruk saat aku tak lagi bersamanya? Jangan berpikir berlebihan..

Pada mulanya memang aku merasa hampa. 
Tapi untuk apa aku harus terpuruk terlalu jauh hanya untuk sebuah cinta yang bahkan menurutku tidak nyata?

Lama-kelamaan aku yakin rasa ini akan hilang dengan sendirinya tanpa aku minta. 
Jadi sekarang aku hanya bisa berharap rasa ini berlari lebih cepat untuk menjauh dariku.

Apakah ada yang bertanya kalau aku masih mencintainya?
Bahkan, dulu aku belum sepenuhnya percaya kalau aku (ternyata) mencintainya. 

Jadi jawaban untuk pertanyaan itu bisa kalian kira-kira sendiri. 
Aku sudah tidak berminat memikirkannya lagi.

Jadi sekarang, aku hanya bisa menunggu bagaimana sang takdir akan menuntunku bertemu dengan cintaku. Cinta yang sesungguhnya untukku. 
Apa ini terdengar sangat putus asa? Biarkan saja.

Kalian bisa membantuku dengan ikut mendoakan agar sang takdir berbaik hati padaku.

Tapi jika kalian tidak berkenan mendoakanku, tidak masalah. 
Aku akan tetap baik-baik saja, karena aku juga bisa berdoa sendiri. 
Jangan khawatir..
Dan terimakasih kalian bersedia mendengarkan ceritaku ini.

Tutycha F. Karisma
28 April 2014
09.32am